Kalau mau diringkas terkait apa saja yang Litha lakukan selama ini after resign, sebenarnya adalah masuk ke dalam jebakan batman yang baru. Tapi Litha masih merasa oke dibandingkan kerja tapi hidupnya seperti tidak manusiawi lagi. Sudah mental terkuras, gaji juga bikin was-was.
“Saya tidak lagi bersedia untuk menjadi bawahan orang yang tidak kompeten!”
Wow.
Itu yang terlintas dipikirannya, otomatis setelah mengucapkan kata-kata yang cukup berani dan—tampak seperti tidak berpikir panjang, sih. Hei, tapi bukan salahnya dong? Litha tidak mau disalahkan sebab cuma tidak kuat lagi disana. Bukan Litha saja yang merasa begitu. Kata cuma bagi orang lain bukan cuma-cuma untuk seorang Litha.
It’s okay, It’s okay—itu kata Litha untuk menenangkan dirinya.
Nah, pagi ini ia mengawali hari dengan memasak nasi, mencuci piring dan menyapu rumah. Bapak dan Ibu sih sepertinya tampak tidak begitu khawatir ketika Litha mengabari ia resign.
“Gak apa-apa, tetap bersyukur. Nanti bantu Bapak sama Ibu di kebun durian.”
Itu artinya, mengulang masa kecil. It’s okay, It’s okay.
“Gak usah khawatir. Kamu inget Pak Manjur yang jual nasi goreng? Travelling loh dia. Kekumpul uangnya. Rezeki gak kemana. Dan itu bukti, berdagang pun bisa nabung. Gak kaleng-kaleng penghasilannya, Litha.”
Iya juga sih.
Tapi, yang namanya berdagang itu mungkin tidak sepasti dan sestabil bekerja sama orang, terus dapat gaji. Litha bukan orang yang penyabar terhadap hal-hal seperti itu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Setidaknya ia tidak termenung mencari loker dengan rusuh sementara ini.
Kebun durian milik orangtuanya itu berjarak sekitar empat kilometer dari rumahnya. Letaknya di lereng bukit. Biasanya berkabut sebelum dan selepas fajar. Pohon-pohonnya menjulang hingga tiga puluh meter. Di bawah kanopi yang rapat, cahaya matahari jatuh seperti keemasan tipis yang pudar di atas tanah empuk karena daun gugur dan kulit durian yang membusuk.
Kalau musim panen, buah-buah jatuh tanpa peringatan. Biasanya, Bapak bisa sampai bermalam di kebun—tidur di gazebo dengan tikar. Bersama dengan Bapak, biasanya ada juga senter dan golok. Bapak dan Ibu Litha bahkan bisa membedakan mana durian jatuh dari kelelawar atau tupai dan mana durian yang benar-benar jatuh dari pohonnya hanya dari suaranya saja.
Tidak boleh telat sedikitpun. Karena? Durian jatuh bisa sudah bolong-bolong karena kelelawar, tupai, atau musang. Litha? Belum. Kemampuannya belum sampai sana.
Selepas bersih-bersih bersama Ibu dan Bapak, ketiganya bertolak ke gudang dekat rumah. Disana, sudah banyak buah durian yang ditumpuk menunggu untuk dipilah pasca dipungut malam hingga subuh tadi.
“Ayo kita pisahin duriannya,” Ibu meraih dua bakul besar berbahan bambu. Litha meraih dua lagi. Mereka mulai memisahkan durian dari kematangannya, bentuknya. Dalam artian, kalau ada yang retak dan busuk maka dipisahkan. Buah yang jatuh terlalu muda juga dipisahkan.
Ibu mengetuk kulit durian-durian itu untuk mengetahui tingkat kematangannya. Sementara Litha bagian yang bisa ditelisik secara mata telanjang: bagus atau tidaknya buah durian.
Setelah dipisah-pisahkan nanti, durian akan dipangkas pangkal tangkainya alias dibersihkan. Ada beberapa yang harus dikirim sehingga ditata dalam keranjang bambu, peti kayu, atau kardus tergantung tujuan. Nah, untuk pengiriman jarak jauh, buah durian yang dikirim adalah buah yang dipetik lebih awal dan dikirim cepat agar matang di perjalanan.
“Bikin kolak durian, Bu?” Litha mengangkat keranjang bambu besar agak ke pinggir dan menarik yang masih kosong mendekat.
“Gak bosan kamu? Kalau kepingin, Ibu buatkan.” Jawaban Ibu membuat senyum Litha mengembang.